menyanyah

Maaf, Saya Memilih untuk Tidak Memilih


Di suatu gerimis di suatu pagi, Otak Kiri, Nurani dan Otak Kanan membangunkan saya lebih cepat dari biasanya. Saya terkagum-kagum melihat rona wajah mereka yang memancar penuh pesona. Ada apa?

“Kami sudah sepakat. Hari ini, kami akan mengadakan pemilihan,” kata Nurani saya sambil mengusap-usap kepalanya yang gundul.

Pemilihan? Pemilihan apa? Untuk apa? Siapa yang dipilih dan yang akan memilih?
Hmm. Sungguh, saya terkaget-kaget saat mendengar penjelasan Otak Kanan. Rupanya, mereka sekongkol, hendak memilih pemimpin diantara mereka. Ah, ada-ada saja ketiga sahabat sejati saya ini.

Dan ternyata, tanpa sepengetahuan saya, mereka sudah melaksanakan proses pemilihan. Bukankah bisa ditebak hasilnya? Ya. Masing-masing memperoleh satu suara karena mereka memilih diri mereka sendiri. Karena itu, mereka melibatkan saya. Maka, saya pun menjadi harapan mereka karena suara saya akan sangat menentukan, siapa yang bakal jadi pemimpin nanti.

“Tapi, pemimpin untuk siapa?” Tanya saya sembari menyiapkan segelas teh tawar dan roti bakar.

“Pemimpin untuk Tuan-lah. Kami sudah sepakat. Siapapun yang menang dalam pemilihan ini, maka dia yang paling berhak menentukan ke arah mana Tuan akan melangkah dalam kehidupan ini dalam lima tahun ke depan. Saya sudah menganalisisnya, apa yang kami lakukan ini akan sangat bermanfaat, akan menjadikan hidup Tuan lebih terarah,” kata Otak Kiri saya, sok gaya.

Alamak! Apa pula ini? Pelan-pelan, saya masuk ke kamar. Saya kunci dari dalam agar ketiga makhluk imaji tersebut tidak mengekori saya. Di tempat tidur, saya coba menerka-nerka, memaknai setiap kata yang baru saja saya dengar. Saya biarkan mereka menggedor-gedor pintu kamar sambil menjerit-jerit.

“Pilih saya, Tuan. Saya berjanji akan membuat hidup Tuan penuh perhitungan yang tepat. Perekonomian Tuan akan membaik dalam waktu 100 hari kepemimpinan saya,” kata Otak Kiri.

“Lebih baik Tuan percaya kepada saya. Bukankan mengikuti hati nurani akan membuat hidup Tuan bahagia? Saya adalah suara kebenaran,” teriak Nurani.

“Ah, kalau ingin mencari bahagia, saya adalah pilihan yang tepat, Tuan. Akan saya isi hidup Tuan dengan segudang ide-ide kreatif yang membuat hari-hari Tuan penuh warna. Ide itu mahal harganya, Tuan,” Otak Kanan tak mau kalah.

Sesaat lamanya saya biarkan mereka mengumbar janji. Hingga tiba di suatu waktu, saya pun turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamar. Otak Kiri, Nurani dan Otak Kanang langsung melompat, berebut memeluk saya.

“Maaf, saya memilih untuk tidak memilih,” kata saya. Ketiga sahabat ini tertegun dengan mata menyipit.

“Alasannya, Tuan?” Tanya Nurani.

“Tidak akan cukup kolom menyanyah ini kalau saya utarakan alasannya. Sudahlah, titik. Kasus ditutup,” jawab saya.

Bah. Sok paten Tuan ini!

kontemplasi

Di sewaktu hujan kemarin sore, tiba-tiba saja nurani saya menangis. Ya, menangis. Tentu saja hal ini membuat otak kanan dan otak kiri saya takjub. Selama mereka berkoalisi sepanjang tahun 1430 Hijriyah ini, rasanya baru kali inilah mereka melihat nurani saya, yang kepalanya gundul, menangis. Sesenggukan, pula.

“Kenapa engkau menangis, duhai nurani? Apa ada yang salah? Apa karena kami,” tanya otak kiri dengan suara yang dibuat selembut mungkin.

Beberapa lamanya saya diam, hanya memandangi mereka. Otak kanan melirik saya. Saya bingung harus berbuat apa. Sudah setahun ini, saya bermusuhan dengan nurani. Sudah sepekan ini, saya selalu melelapkannya, meminggirkannya dari segala aktivitas saya. Praktis, hari-hari yang saya jalani hanya mengandalkan koalisi otak kanan dan otak kiri.

Oh, nurani, karena itukah kamu menangis?

Saya hampiri nurani dengan tubuh gemetar. Jantung saya berdegup lebih cepat. Otak kanan dan otak kiri undur diri, lalu lenyap entah kemana. Tinggal saya dan nurani, di sebuah labirin sunyi tanpa bunyi. Hanya suara isak dan degup jantung berdetak.

“Kamu,” bergetar suara saya seketika nurani menoleh, menatap saya. Ya, Tuhan! Matanya, mata itu seakan menyimpan hamparan laut dan telaga.

“Tuan,” katanya. Lembut, lembut sekali. Saya mengangguk kecil.

“Tuhan menciptakan dan menyerahkan saya kepada Tuan. Untuk mengabdi kepada Tuan. Lalu apa artinya saya kalau Tuan selalu memusuhi saya? Apa artinya saya jika Tuan lebih memilih otak dari pada saya, untuk menemani hari-hari Tuan?”

“Tuan, saya ingin Tuan jatuh cinta kepada saya. Cintai saya, Tuan, dengan segenap kepercayaan,” kata nurani dengan rangkaian kata yang terang benderang.

Saya tertegun. Nurani terus berkata-kata, dengan kalimat yang menohok, menenggelamkan saya dalam hening teramat bening. Lompatan-lompatan peristiwa berseliweran dalam minda saya. Satu tahun, oh, satu tahun sudah terlewati kembali. Apa yang sudah saya lakukan? Jangankan untuk negara dan agama, ah, keluarga pula. Untuk diri sendiri saja, saya tidak bisa membuat catatan hidup yang indah, kecuali goretan-goretan samar belaka. Satu tahun, satu tahun yang tanpa makna!

Tubuh saya bergetar hebat, saat nurani mendekap dengan erat.

“Besok, semoga saja matahari masih terbit dari Timur. Selamat Tahun Baru, Tuan…”

dendam

Dendam itu adalah perbuatan tidak baik, kata orang tua saya, sejak saya kecil. Dendam hanya membuat hati kita menjadi kotor. Hidup pun bisa tidak tenang dibuatnya.

Tapi, namanya juga manusia, terkadang hal-hal sepele pun bisa menumbuhkan benih-benih dendam. Apatah lagi usai kalah dalam pertarungan memperebutkan kursi ketua sebuah partai besar? Atau kalah dalam persaingan pilkada. Atau, lebih sederhana (namun paling rumit) lagi, kalah dalam urusan cinta? Aha!

Lain di mulut lain di hati. Sudah menjadi hal yang sangat biasa, ketika kita melihat atau mendengar seseorang mengaku tidak akan dendam terhadap lawan atau pesaingnya. Tapi, dalamnya hati siapa yang tahu?

Begitulah, sidang pembaca yang terhormat. Tapi, dari pada nyinyir membicarakan dendam milik orang lain, lebih bagus kalau saya melongok ke dalam, ke diri saya. Ah, tapi saya tidak tahu, dendam seperti apa yang nangkring seenaknya di sudut hati saya ini.

“Begini saja,” kata nurani saya. Seperti biasa, dia menyundulkan kepalanya ke ulu hati saya.

“Kau ceritakan tentang peristiwa terbaru yang membuat malam-malammu tidak indah lagi beberapa hari ini,” katanya sambil tertawa terkikik-kikik.

Baiklah, begini ceritanya. Di suatu siang di suatu hari, saya mendapat sms dari seorang teman yang isinya meminta tolong kepada saya atas sesuatu keperluan. Saat menerima pesan singkat itu, otak kanan dan otak kiri saya berkoalisi melawan saya punya nurani.

“Dia pernah mengkhianatimu, saudaraku,” bisik otak kanan dan otak kiri saya bersamaan.

Dengan segala kesombongan yang saya miliki, sms permintaan tolong itu pun langsung saya delete. Wah, lega betul perasaan saya, ketika itu.

“Kau tidak akan hidup tenang, kawan. Kenapa tidak kau bantu saja dia,” kata nurani saya beberapa saat setelah sms itu saya hapus.

“Kenapa harus ditolong? Dia sudah membuatmu malu di depan orang banyak. Dia sudah melukai hatimu. Dia…” teror otak saya.

Ah, sampai sekarang saya masih memikirkan isi sms itu. Bantu, tidak, bantu, ti…ban…

salam dini hari

seperti hari-hari kemarin, hari ini aku juga terlambat tidur. ini penyakit apa memang aku aja yang menyengajakannya..uh!
ingin mencipta puisi tapi kepala sedang tak sakti..cukuplah kalimat-kalimat tanpa arti ini..
buka-buka email, facebook, yahoo messenger..melanglang ke dunia google, bertamu ke blog siapa saja, tapi kok tetep ga mau tidur ya?
aneh..kalo punya istri nanti, apa masih susah tidur juga ya? ah, kalo punya istri, bukannya rugi kalo cepat-cepat tidur? hahay..tapi kapan, bro?

ada gadis, cinta mati samaku, tp pas diajak merid malah ogah. katanya ga mau cepat-cepat. lah, trus mau ngapain? apa mau terus-terusan berzinah? dosaku sudah selangit tembus sedalam samudra..dah gitu malah ga ada acara tobat-tobatan..berbuat dosa sudah menjadi candu..uh

salam dini hari, buat para begadangers di dunia ini..
daripada tulisan ini ngelantur ke sana dan ke sini, ga jelas apa yang dituju..wokehlah..ku stop aja..hehehey..

muach..

ular hitam

ketika hati terjebak di lingkaran masa lalu, kembali aku mengingatmu, cinta.

salam malam pada kamar. bersama ular hitam yang memenuhi otakku. salam pada kamu, yang menggoda hatiku.

engkaukah itu, yang menyematkan rindu di kedua telingaku? kau yang terlalu menggoda atau aku yang tak pernah kuasa? o, baiklah, kita putuskan saja malam ini. akan kubiarkan ujung jarimu menyentuhku, akan kubiarkan senyummu membuka pintuku. betapa ingin aku tersadar, bahwa
engkau memang ingin berdiam di situ. seperti yang kau lakukan tadi malam, di samping tetua dari bumi khatulistiwa.

ke ruang tamu aku terpaku, kembali ke kasur aku terpekur. ke kamar mandi aku menyepi, ke
halaman lah aku baru merasa nyaman. ah, ada kamu di sana, cinta. di antara pokok mangga
dan tong sampah. bergetar, gelegar lahar dalam rongga nafsu yang terbakar.

ular hitam di kepalaku, matanya redup, cinta.

“aku ingin melihatnya lagi, tuan. aroma tubuhnya manis, semanis tatapan matanya yang menatap tuan penuh asmara…”

ya, ampun! kenapa semua di rumah ini teringat sama kamu, cinta? piringku, merajuk dia saat hendak kuajak bercumbu dengan semangkuk mie instant. gelasku menolak waktu aku ingin mengecupnya galak. gayung biru? apalagi, jangankan menyedok barang setangkup air, aku ingin meraih gagangnya pun, ia langsung minggir.

“aku rindu sentuhan jemarinya, tuan,” katanya memelas genit.

ah, padahal baru satu minggu yang lalu kamu ada di sini, cinta. memain-mainkan sepeluk rambut yang menggelung, minta diponi. kau, tahu? dari cermin mungil di samping wastafel, aku melihat mata ular hitam menyala-nyala. ekornya menyibak-nyibak dinding kepalaku, lidahnya yang bercabang itu terus meracau.

ketika itu aku tahu, ia ingin mencecap darahmu…

jatuh rindu

perempuan,
apakah aku boleh jatuh rindu kepadamu?

Lelaki itu bertanya kepada Bapaknya yang tengah sekarat, di ruang VIP sebuah rumah sakit baru di kampungnya, apakah ia pantas berkata demikian kepada seorang perempuan. Si Bapak menjawab, dengan selang pernafasan yang menusuk genit di lubang hidungnya yang tua: “Perempuan mana yang telah menjatuhkan rindumu? Apakah Bapak pernah bertemu?”

“Tidak, Bapak tidak pernah bertemu, tapi Bapak pernah menjamah suara mereka, yang disampaikan senja, dahulu, sewaktu saya masih lagi bersembunyi dibalik keragu-raguan,” jawab si Lelaki, yang diwajahnya tertancap jutaan anak panah, yang tidak ingin dicabutnya usai ia bersumpah: “Kan kubiarkan anak panah-anak panah ini tertancap di wajahku, hingga sampai waktuku, memperoleh rindumu”, dahulu, yang waktunya sudah ia lupakan.

Lalu, Bapak Lelaki itu membelai kepala anaknya, ditariknya kepala si Lelaki, mendekat ke bibirnya yang pucat, dan bergetar, menyambut maut.

“Jatuhkanlah rindumu kepada semua perempuan, Nak, jatuhkanlah. Hingga engkau peroleh sebuah rindu sejati, seperti Bapak, yang sudah menemukan puncak rindu, di jiwa Ibu…”

« Entri lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.