dendam

Dendam itu adalah perbuatan tidak baik, kata orang tua saya, sejak saya kecil. Dendam hanya membuat hati kita menjadi kotor. Hidup pun bisa tidak tenang dibuatnya.

Tapi, namanya juga manusia, terkadang hal-hal sepele pun bisa menumbuhkan benih-benih dendam. Apatah lagi usai kalah dalam pertarungan memperebutkan kursi ketua sebuah partai besar? Atau kalah dalam persaingan pilkada. Atau, lebih sederhana (namun paling rumit) lagi, kalah dalam urusan cinta? Aha!

Lain di mulut lain di hati. Sudah menjadi hal yang sangat biasa, ketika kita melihat atau mendengar seseorang mengaku tidak akan dendam terhadap lawan atau pesaingnya. Tapi, dalamnya hati siapa yang tahu?

Begitulah, sidang pembaca yang terhormat. Tapi, dari pada nyinyir membicarakan dendam milik orang lain, lebih bagus kalau saya melongok ke dalam, ke diri saya. Ah, tapi saya tidak tahu, dendam seperti apa yang nangkring seenaknya di sudut hati saya ini.

“Begini saja,” kata nurani saya. Seperti biasa, dia menyundulkan kepalanya ke ulu hati saya.

“Kau ceritakan tentang peristiwa terbaru yang membuat malam-malammu tidak indah lagi beberapa hari ini,” katanya sambil tertawa terkikik-kikik.

Baiklah, begini ceritanya. Di suatu siang di suatu hari, saya mendapat sms dari seorang teman yang isinya meminta tolong kepada saya atas sesuatu keperluan. Saat menerima pesan singkat itu, otak kanan dan otak kiri saya berkoalisi melawan saya punya nurani.

“Dia pernah mengkhianatimu, saudaraku,” bisik otak kanan dan otak kiri saya bersamaan.

Dengan segala kesombongan yang saya miliki, sms permintaan tolong itu pun langsung saya delete. Wah, lega betul perasaan saya, ketika itu.

“Kau tidak akan hidup tenang, kawan. Kenapa tidak kau bantu saja dia,” kata nurani saya beberapa saat setelah sms itu saya hapus.

“Kenapa harus ditolong? Dia sudah membuatmu malu di depan orang banyak. Dia sudah melukai hatimu. Dia…” teror otak saya.

Ah, sampai sekarang saya masih memikirkan isi sms itu. Bantu, tidak, bantu, ti…ban…

salam dini hari

seperti hari-hari kemarin, hari ini aku juga terlambat tidur. ini penyakit apa memang aku aja yang menyengajakannya..uh!
ingin mencipta puisi tapi kepala sedang tak sakti..cukuplah kalimat-kalimat tanpa arti ini..
buka-buka email, facebook, yahoo messenger..melanglang ke dunia google, bertamu ke blog siapa saja, tapi kok tetep ga mau tidur ya?
aneh..kalo punya istri nanti, apa masih susah tidur juga ya? ah, kalo punya istri, bukannya rugi kalo cepat-cepat tidur? hahay..tapi kapan, bro?

ada gadis, cinta mati samaku, tp pas diajak merid malah ogah. katanya ga mau cepat-cepat. lah, trus mau ngapain? apa mau terus-terusan berzinah? dosaku sudah selangit tembus sedalam samudra..dah gitu malah ga ada acara tobat-tobatan..berbuat dosa sudah menjadi candu..uh

salam dini hari, buat para begadangers di dunia ini..
daripada tulisan ini ngelantur ke sana dan ke sini, ga jelas apa yang dituju..wokehlah..ku stop aja..hehehey..

muach..

ular hitam

ketika hati terjebak di lingkaran masa lalu, kembali aku mengingatmu, cinta.

salam malam pada kamar. bersama ular hitam yang memenuhi otakku. salam pada kamu, yang menggoda hatiku.

engkaukah itu, yang menyematkan rindu di kedua telingaku? kau yang terlalu menggoda atau aku yang tak pernah kuasa? o, baiklah, kita putuskan saja malam ini. akan kubiarkan ujung jarimu menyentuhku, akan kubiarkan senyummu membuka pintuku. betapa ingin aku tersadar, bahwa
engkau memang ingin berdiam di situ. seperti yang kau lakukan tadi malam, di samping tetua dari bumi khatulistiwa.

ke ruang tamu aku terpaku, kembali ke kasur aku terpekur. ke kamar mandi aku menyepi, ke
halaman lah aku baru merasa nyaman. ah, ada kamu di sana, cinta. di antara pokok mangga
dan tong sampah. bergetar, gelegar lahar dalam rongga nafsu yang terbakar.

ular hitam di kepalaku, matanya redup, cinta.

“aku ingin melihatnya lagi, tuan. aroma tubuhnya manis, semanis tatapan matanya yang menatap tuan penuh asmara…”

ya, ampun! kenapa semua di rumah ini teringat sama kamu, cinta? piringku, merajuk dia saat hendak kuajak bercumbu dengan semangkuk mie instant. gelasku menolak waktu aku ingin mengecupnya galak. gayung biru? apalagi, jangankan menyedok barang setangkup air, aku ingin meraih gagangnya pun, ia langsung minggir.

“aku rindu sentuhan jemarinya, tuan,” katanya memelas genit.

ah, padahal baru satu minggu yang lalu kamu ada di sini, cinta. memain-mainkan sepeluk rambut yang menggelung, minta diponi. kau, tahu? dari cermin mungil di samping wastafel, aku melihat mata ular hitam menyala-nyala. ekornya menyibak-nyibak dinding kepalaku, lidahnya yang bercabang itu terus meracau.

ketika itu aku tahu, ia ingin mencecap darahmu…

jatuh rindu

perempuan,
apakah aku boleh jatuh rindu kepadamu?

Lelaki itu bertanya kepada Bapaknya yang tengah sekarat, di ruang VIP sebuah rumah sakit baru di kampungnya, apakah ia pantas berkata demikian kepada seorang perempuan. Si Bapak menjawab, dengan selang pernafasan yang menusuk genit di lubang hidungnya yang tua: “Perempuan mana yang telah menjatuhkan rindumu? Apakah Bapak pernah bertemu?”

“Tidak, Bapak tidak pernah bertemu, tapi Bapak pernah menjamah suara mereka, yang disampaikan senja, dahulu, sewaktu saya masih lagi bersembunyi dibalik keragu-raguan,” jawab si Lelaki, yang diwajahnya tertancap jutaan anak panah, yang tidak ingin dicabutnya usai ia bersumpah: “Kan kubiarkan anak panah-anak panah ini tertancap di wajahku, hingga sampai waktuku, memperoleh rindumu”, dahulu, yang waktunya sudah ia lupakan.

Lalu, Bapak Lelaki itu membelai kepala anaknya, ditariknya kepala si Lelaki, mendekat ke bibirnya yang pucat, dan bergetar, menyambut maut.

“Jatuhkanlah rindumu kepada semua perempuan, Nak, jatuhkanlah. Hingga engkau peroleh sebuah rindu sejati, seperti Bapak, yang sudah menemukan puncak rindu, di jiwa Ibu…”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.