salam malam pada kamar. bersama ular hitam yang memenuhi otakku. salam pada kamu, yang menggoda hatiku.
engkau memang ingin berdiam di situ. seperti yang kau lakukan tadi malam, di samping tetua dari bumi khatulistiwa.
ke ruang tamu aku terpaku, kembali ke kasur aku terpekur. ke kamar mandi aku menyepi, ke
halaman lah aku baru merasa nyaman. ah, ada kamu di sana, cinta. di antara pokok mangga
dan tong sampah. bergetar, gelegar lahar dalam rongga nafsu yang terbakar.
ular hitam di kepalaku, matanya redup, cinta.
“aku ingin melihatnya lagi, tuan. aroma tubuhnya manis, semanis tatapan matanya yang menatap tuan penuh asmara…”
ya, ampun! kenapa semua di rumah ini teringat sama kamu, cinta? piringku, merajuk dia saat hendak kuajak bercumbu dengan semangkuk mie instant. gelasku menolak waktu aku ingin mengecupnya galak. gayung biru? apalagi, jangankan menyedok barang setangkup air, aku ingin meraih gagangnya pun, ia langsung minggir.
“aku rindu sentuhan jemarinya, tuan,” katanya memelas genit.
ah, padahal baru satu minggu yang lalu kamu ada di sini, cinta. memain-mainkan sepeluk rambut yang menggelung, minta diponi. kau, tahu? dari cermin mungil di samping wastafel, aku melihat mata ular hitam menyala-nyala. ekornya menyibak-nyibak dinding kepalaku, lidahnya yang bercabang itu terus meracau.
ketika itu aku tahu, ia ingin mencecap darahmu…