kontemplasi

Di sewaktu hujan kemarin sore, tiba-tiba saja nurani saya menangis. Ya, menangis. Tentu saja hal ini membuat otak kanan dan otak kiri saya takjub. Selama mereka berkoalisi sepanjang tahun 1430 Hijriyah ini, rasanya baru kali inilah mereka melihat nurani saya, yang kepalanya gundul, menangis. Sesenggukan, pula.

“Kenapa engkau menangis, duhai nurani? Apa ada yang salah? Apa karena kami,” tanya otak kiri dengan suara yang dibuat selembut mungkin.

Beberapa lamanya saya diam, hanya memandangi mereka. Otak kanan melirik saya. Saya bingung harus berbuat apa. Sudah setahun ini, saya bermusuhan dengan nurani. Sudah sepekan ini, saya selalu melelapkannya, meminggirkannya dari segala aktivitas saya. Praktis, hari-hari yang saya jalani hanya mengandalkan koalisi otak kanan dan otak kiri.

Oh, nurani, karena itukah kamu menangis?

Saya hampiri nurani dengan tubuh gemetar. Jantung saya berdegup lebih cepat. Otak kanan dan otak kiri undur diri, lalu lenyap entah kemana. Tinggal saya dan nurani, di sebuah labirin sunyi tanpa bunyi. Hanya suara isak dan degup jantung berdetak.

“Kamu,” bergetar suara saya seketika nurani menoleh, menatap saya. Ya, Tuhan! Matanya, mata itu seakan menyimpan hamparan laut dan telaga.

“Tuan,” katanya. Lembut, lembut sekali. Saya mengangguk kecil.

“Tuhan menciptakan dan menyerahkan saya kepada Tuan. Untuk mengabdi kepada Tuan. Lalu apa artinya saya kalau Tuan selalu memusuhi saya? Apa artinya saya jika Tuan lebih memilih otak dari pada saya, untuk menemani hari-hari Tuan?”

“Tuan, saya ingin Tuan jatuh cinta kepada saya. Cintai saya, Tuan, dengan segenap kepercayaan,” kata nurani dengan rangkaian kata yang terang benderang.

Saya tertegun. Nurani terus berkata-kata, dengan kalimat yang menohok, menenggelamkan saya dalam hening teramat bening. Lompatan-lompatan peristiwa berseliweran dalam minda saya. Satu tahun, oh, satu tahun sudah terlewati kembali. Apa yang sudah saya lakukan? Jangankan untuk negara dan agama, ah, keluarga pula. Untuk diri sendiri saja, saya tidak bisa membuat catatan hidup yang indah, kecuali goretan-goretan samar belaka. Satu tahun, satu tahun yang tanpa makna!

Tubuh saya bergetar hebat, saat nurani mendekap dengan erat.

“Besok, semoga saja matahari masih terbit dari Timur. Selamat Tahun Baru, Tuan…”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.