“Kami sudah sepakat. Hari ini, kami akan mengadakan pemilihan,” kata Nurani saya sambil mengusap-usap kepalanya yang gundul.
Pemilihan? Pemilihan apa? Untuk apa? Siapa yang dipilih dan yang akan memilih?
Hmm. Sungguh, saya terkaget-kaget saat mendengar penjelasan Otak Kanan. Rupanya, mereka sekongkol, hendak memilih pemimpin diantara mereka. Ah, ada-ada saja ketiga sahabat sejati saya ini.
Dan ternyata, tanpa sepengetahuan saya, mereka sudah melaksanakan proses pemilihan. Bukankah bisa ditebak hasilnya? Ya. Masing-masing memperoleh satu suara karena mereka memilih diri mereka sendiri. Karena itu, mereka melibatkan saya. Maka, saya pun menjadi harapan mereka karena suara saya akan sangat menentukan, siapa yang bakal jadi pemimpin nanti.
“Tapi, pemimpin untuk siapa?” Tanya saya sembari menyiapkan segelas teh tawar dan roti bakar.
“Pemimpin untuk Tuan-lah. Kami sudah sepakat. Siapapun yang menang dalam pemilihan ini, maka dia yang paling berhak menentukan ke arah mana Tuan akan melangkah dalam kehidupan ini dalam lima tahun ke depan. Saya sudah menganalisisnya, apa yang kami lakukan ini akan sangat bermanfaat, akan menjadikan hidup Tuan lebih terarah,” kata Otak Kiri saya, sok gaya.
Alamak! Apa pula ini? Pelan-pelan, saya masuk ke kamar. Saya kunci dari dalam agar ketiga makhluk imaji tersebut tidak mengekori saya. Di tempat tidur, saya coba menerka-nerka, memaknai setiap kata yang baru saja saya dengar. Saya biarkan mereka menggedor-gedor pintu kamar sambil menjerit-jerit.
“Pilih saya, Tuan. Saya berjanji akan membuat hidup Tuan penuh perhitungan yang tepat. Perekonomian Tuan akan membaik dalam waktu 100 hari kepemimpinan saya,” kata Otak Kiri.
“Lebih baik Tuan percaya kepada saya. Bukankan mengikuti hati nurani akan membuat hidup Tuan bahagia? Saya adalah suara kebenaran,” teriak Nurani.
“Ah, kalau ingin mencari bahagia, saya adalah pilihan yang tepat, Tuan. Akan saya isi hidup Tuan dengan segudang ide-ide kreatif yang membuat hari-hari Tuan penuh warna. Ide itu mahal harganya, Tuan,” Otak Kanan tak mau kalah.
Sesaat lamanya saya biarkan mereka mengumbar janji. Hingga tiba di suatu waktu, saya pun turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamar. Otak Kiri, Nurani dan Otak Kanang langsung melompat, berebut memeluk saya.
“Maaf, saya memilih untuk tidak memilih,” kata saya. Ketiga sahabat ini tertegun dengan mata menyipit.
“Alasannya, Tuan?” Tanya Nurani.
“Tidak akan cukup kolom menyanyah ini kalau saya utarakan alasannya. Sudahlah, titik. Kasus ditutup,” jawab saya.
Bah. Sok paten Tuan ini!